Percaya pada Mimpi

Sejauh mana kita percaya pada mimpi kita sendiri?  Apapun istilahnya, entah mimpi, imajinasi, angan-angan, visi, atau apapun, kita mungkin punya gambaran tentang masa depan kita.  Sejauh mana kita dipengaruhi oleh mimpi kita?  Apakah mimpi itu penting dalam hidup kita?  Setinggi apa kita boleh bermimpi?  Apakah kondisi kita sekarang membatasi mimpi kita? 

Barangkali mimpi, atau imajinasi, adalah salah satu karunia terbesar yang Allah berikan pada kita.  Berbagai penemuan manusia awalnya adalah mimpi atau imajinasi.  Perjalanan ke bulan, penemuan pesawat terbang, internet, telepon, radio, awalnya tentu sebuah imajinasi.  Kemudian dibuat konsep, dikerjakan siang malam selama bertahun-tahun, dan akhirnya terwujud.   

Buat saya pribadi sebagai seorang muslim, ada satu ayat dalam Al Qur’an yang sering menggugah fikiran saya berkaitan dengan mimpi ini, yakni surat Ar Rahman ayat 33.  ”Wahai golongan jin dan manusia!  Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah.  Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)”   Saya kira dengan ayat ini Allah menyuruh kita berfikir tentang hal-hal yang (kelihatannya) mustahil dicapai, pada saat diturunkannya ayat itu.  Dan sekarang terbukti, manusia mampu menembus batas-batas langit yang sebelumnya tak mampu ditembus.  Mampu mencapai bulan, Mars, mengorbitkan satelit, dll. 

Kemudian, apakah ada batasan bagi imajinasi?  Saya fikir, apakah kita nanti berhasil mencapai mimpi kita atau tidak, bukan itu hal yang terpenting.  Melainkan bahwa semangat menggapai mimpi itulah yang akan membangkitkan berbagai potensi dari dalam diri kita, memberi kita keberanian dalam mengambil resiko, mampu bangkit kembali setelah mengalami berbagai kegagalan, mau menerima kritik, mau mendengarkan cacian orang, dll. Dengan mimpi itulah kita belajar, menjelajah dunia, memperkaya diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan, dll. 

Dan semoga, nanti di usia senja (apabila Allah memberi kita umur), kita akan bersyukur bahwa kita telah memberikan yang terbaik dalam hidup, telah berani berjuang, telah bergaul dengan sekian banyak orang, telah belajar sekian banyak pengetahuan.  Hal-hal itu mungkin sama berharganya -atau lebih berharga- daripada terwujudnya mimpi kita.  Tapi tetap saja mimpi itu akan menjadi obor penerang, api pembakar semangat kita dalam hidup.  Bahkan, kalaupun kita sudah meraih apa yang pernah kita impikan, janganlah berhenti bermimpi.  Mimpilah yang lebih tinggi lagi, lebih tinggi lagi.  Agar kita selalu bersemangat dalam hidup, bergembira, berfikir positif, dan yang terpenting: bersyukur atas segala nikmat-Nya.

Wallahu a’lam. 

4 Responses to “Percaya pada Mimpi”

  1. cassanova Says:

    “ada satu ayat dalam Al Qur’an yang sering menggugah fikiran saya berkaitan dengan mimpi ini, yakni surat Ar Rahman ayat 33. ”Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)” Saya kira dengan ayat ini Allah menyuruh kita berfikir tentang hal-hal yang (kelihatannya) mustahil dicapai, pada saat diturunkannya ayat itu. Dan sekarang terbukti, manusia mampu menembus batas-batas langit yang sebelumnya tak mampu ditembus. Mampu mencapai bulan, Mars, mengorbitkan satelit, dll.”
    …… eh apa gak keliru nich..
    pak, setahu saya ayat itu ternyata hanya berlaku untuk kaum kafir, buktinya hanya merekalah yang diijinkan allah untuk menembus bumi dan angkasa dengan teknologi baratnya, kenapa yang muslim malah tidak diijinkan?… dengan kata lain ayat tersebut kita anggap benar hanya karena telah diwujudkan oleh kaum kafir, kenapa ya? padahal menurut allah kafir itu halal untuk disembelih.. dan mereka pasti masuk neraka jahanam semua. bagaimana ini pak!?! apakah pantas jika kita mengklaim perbuatan orang kafir hanya untuk membenarkan sebuah ayat Alquran? mohon jawabannya.

  2. alumni Says:

    to cassanova;
    anda ada bertanya :
    “mengapa kafir yang diijinkan, sedangkan muslim tidak?”……mm
    …..
    jangan-jangan karena kafir sebenarnya lebih dipandang mulia dari muslim ya? lho kok? ..
    trus klo begitu Alquran itu sebenarnya untuk siapa???
    diayat tertentu malah ada ayat yang menyebut Isa sebagai Khalimatullah.. itu sama saja dengan Firman, jadi Isa itu firman Tuhan alias Tuhan itu sendiri dong!!
    padahal Isa itu ya Tuhannya orang Kafir… (udah katam baca alquran kan?)
    gitu aja kok masih ribet. Alquran ternyata mengakui Isa sebagai Tuhan.
    nah ketahuan deh siapa yang selama ini udah bohongin orang banyak…

  3. Teddy Says:

    Halo, salam kenal buat Cassanova dan Alumni
    Maaf sebelumnya, tapi blog ini sebenarnya diperuntukkan hanya bagi
    Alumni ITB angkatan 89. Apakah Cassanova dan Alumni anggota
    komunitas ini? Memang sepertinya blog ini tidak mem-filter anggota
    yang masuk, mungkin ke depan akan diperbaiki.
    Terima kasih untuk tanggapannya untuk tulisan saya, maaf saya tidak ingin menanggapi di sini, kecuali kalau Anda berdua Alumni ITB89.
    Silakan menulis ke email saya kalau memang ingin berdiskusi. Terima kasih. Salam, Teddy.

  4. Teddy Says:

    Ini alamat e-mail saya: t_tedjakusuma@yahoo.com

Leave a Reply