Zeitgeist dan Identitas Sebuah Angkatan
Zeitgeist berasal dari sebuah ekspresi bahasa jerman yang berarti spirit (Geist) sang waktu (Zeit). Ia menandai iklim intelektual dan kultural sebuah era. Konsep Zeitgeist mengacu pada seorang filsuf Jerman Johann Gottfrien Herder, namun paling erat kaitannya dengan filosofi Hegel tentang sejarah. Pada 1769 Hegel menulis sebuah kritik terhadap karya Genius seculi dari philologist Christian Adolph Klotz dan memperkenalkan kata Zeitgeist ke dalam bahasa jerman sebagai terjemahan dari genius seculi (Latin: genius - “guardian spirit” dan saeculi - “of the century“).
Kata ini menjadi sebuah istilah yang mengacu pada etos sebuah masyarakat, mencakup satu atau lebih generasi, dengan mengabaikan perbedaan umur dan latar belakang sosial ekonomi, yang memiliki suatu perspektif atau pandangan tertentu terhadap dunia, yang umum atau dominan pada periode tertentu sebuah progresi sosio-kultural. Zeitgeist adalah pengalaman iklim kultural dominan yang mendefinisikan, khususnya dalam pemikiran Hegelian, suatu era progresi dialektikal masyarakat, atau dunia dalam lingkup yang lebih luas. Menurut Hegel, Zeitgeist selalu berinkarnasi atau wewujudkan dirinya sendiri dalam sebuah Volgeist tertentu (Volk berarti orang atau masyarakat), yang secara persona diwakili oleh seorang hero. Ketika misi sang hero telah terpenuhi, sejarah akan mengabaikannya dan sang Zeitgeist akan ditransfer ke Volgeist lainnya, di mana seorang hero baru akan tampil untuk melengkapi pemahaman akan sang Mahluk “spiritual” tersebut melalui perjalanan sejarah itu sendiri.
Sebagai bagian dari sebuah angkatan dan juga persona, spirit ini bisa diidentifikasi berdasarkan milestone kesadaran (intelektual, spiritual) sepanjang perjalanan kita: misalnya sejak pertama masuk almamater, masa-masa menimba ilmu secara formal, lulus, terjun ke masyarakat, hingga saat ini. Apa yang menjadi dorongan atau motivasi utama, nilai, prinsip, idealisme, pilihan peran atau kiprah profesional, metoda atau alat yang digunakan, style atau gaya hidup, dan sebagainya. Ketika zaman harus berganti, transisi ini dikenali oleh orang-orang yang mengaspirasikan sebuah perubahan.
Jika dilihat secara keseluruhan, baik-buruk yang ada di muka bumi adalah cermin kita bersama. Namun di atas penghakiman benar-salah, yang utama adalah seberapa fluid-kah kita sanggup berubah dan bertransformasi, seberapa sensitif kemampuan kita mengindera pembaruan jika saatnya telah tiba. Dan yang paling penting: cukup beranikah kita memulai sebuah kehidupan baru, masyarakat baru, dunia baru, nilai-nilai yang benar-benar baru jika sang Waktu telah memanggil?
Sebuah puisi indah di bawah ini saya baca tanpa sengaja, terpampang di dinding sebuah kereta underground (metro) di Paris. Buah karya Emily Dickinson, diterjemahkan dari bahasa Prancis kurang lebih maknanya sebagai berikut:
Dunia ini oval
Kita mempelajari air melalui rasa haus,
daratan melalui perjalanan laut,
intesitas dari agitasi,
perdamaian melalui kisah perang,
cinta melalui kematian,
dan burung-burung melalui musim dingin.
Alam adalah alegori yang sempurna. Perubahan warna dedaunan di musim gugur menjadikan pepohonan kaya warna dan nuansa. Namun ini pun tidak berlangsung lama. Daun-daun yang semula hijau satu persatu menjadi kemerahan, kuning, kemudian jingga, mengering akhirnya gugur menjadi lembaran ringan kecoklatan yang melayang tertiup angin. Kemudian pepohonan akan tinggal dahan dan ranting-ranting telanjang, saat di mana dunia vegetasi siap memasuki fase selanjutnya, musim dingin. Berubah seiring zaman adalah seperti melangkah seiring dengan musim yang terus-menerus berganti dan menyatu di dalamnya. Keabadian.
Lyon, akhir pekan, musim gugur | 4:04 am

(Credit Image: Autumn in Salcey Forest, Northampton by Marlene Snee)
November 12th, 2007 at 1:12 am
Worth contemplating it.
January 29th, 2010 at 12:42 pm
artikel yg menarik. bermula dari kesadaran saya ttg apa yg terjadi pada dunia ini, interest saya ttg kontrol sosial dan secret society dan pernak-perniknya, mampir kesini, dan bermuaranya nanti saya sendiripun tdk tahu.