Sekolah Alam vs Sekolah Buatan
Tuesday, May 13th, 2008 by Perry IsmangilDari diskusi di milis itb89, kelihatan bahwa Sekolah Alam (SA) dianggap lebih baik dari sekolah non-alam atau saya sebut saja Sekolah Buatan (SB) — lawannya alam (nature) kan buatan (artificial). Sampai-sampai, kalau di daerah tempat tinggalnya tidak ada SA, ya dirikan saja sendiri. Salut! Saya sendiri tidak akan mampu begitu. Cuman bisa melihat daftar sekolah yang sudah ada, dan memilih dari situ.
Saya tidak pernah masuk SA. Tidak pernah juga lihat sendiri SA di Bandung, Jakarta, atau manapun. Anak-anak saya (saat ini umur 11 dan 5 tahun) juga sekolahnya di SB. Jadi pengetahuan saya tentang SA murni hanya dari cerita-cerita rekan ‘89 yang anaknya disekolahkan di SA. Saya juga bukan pakar pendidikan, hanya orang tua biasa lulusan ITB dengan gelar teknis, bukan keguruan (walaupun memang pernah beberapa tahun jadi dosen ITB).
Menurut saya, SA itu menjadi bagus bukan karena alamnya. Tapi lebih karena:
- Mutu guru lebih bagus. Gaji kecil ternyata bukan masalah, yang lebih penting adalah proses pemilihan dan pelatihannya. Pelatihan juga bukan hanya di awal tapi terus menerus. Guru yang mutunya memburuk, segera diganti.
- Kepala sekolah yang memimpin dengan baik. Menciptakan suasana yang menyenangkan bagi guru, siswa, dan orang tua.
- Ukuran kelas lebih optimal. Bukan selalu lebih kecil (walaupun memang membantu), tapi cukup untuk terjadi interaksi yang bagus antara siswa dan guru serta antara para siswa sendiri.
- Orang tua terlibat aktif. Dengan menyekolahkan anaknya di SA, atau bahkan sampai mendirikan SA sendiri, menunjukkan bahwa mereka ingin dan mampu untuk terlibat langsung dalam pendidikan anak.
Kalau ada SB yang menjalankan hal di atas, saya yakin hasilnya akan sama saja.
Jadi, untuk orang tua yang ingin bikin sekolah sendiri tapi tidak bisa bikin SA, bikin saja SB dengan mutu guru yang setinggi mungkin. Pasti hasilnya sama.