Archive for the ‘ITB89’ Category

BERJUANG hanya untuk yang punya NYALI by YANLI - DS

Monday, June 23rd, 2008 by shintamoeladi

Berikut adalah tulisan Yanli-DS yang dikirim pada hari Rabu, 18 Juni 2008. Yanli yang pada minggu itu sedang diwawancara oleh rekan-2 seangkatan mencoba menjawab pertanyaan Ira-TI mengenai isu going green yang sedang ramai dibicarakan.  Saya tidak melihat bahwa going green menjadi masalah yang bisa menjadi isu yang cukup besar bagi masyarakat kita . Tapi isu ini memang menjadi isu yang sangat mendunia, kesadaran akan lingkungan seolah menjadi trend setelah isu global warming menjadi isu yang dihembuskan oleh negara negara yang sebenarnya justru penyumbang karbon terbesar perkapita. Dan meletakkan seluruh kesalahan ini kepada negara negara ketiga dalam yang berada di ring khatulistiwa. Pertanyaan yang penting adalah sejauh mana kita dapat memanfaatkan isu ini untuk kepentingan kita.  GOING GREEN FOR GLOBAL MARKET Sepertinya saat ini kita tidak membahas bagaimana implementasinya kedalam lingkungan kita karena itu dapat kita laksanakan secara pribadi, tapi bagaimana kita mampu mempergunakan kesempatan ini sebagai peluang dalam melakukan terobosan mengembangkan pasar ekspor, Isu global warming mengakibatkan isu terhadap lingkungan semakin membahana, begitu pula dengan kesadaran akan produk produk green yang mengurangi dampak yang merusak lingkungan. Meningkatnya  kesadaran kepada produk produk home furnishing dan home accessories yang sustainable. Yang mempergunakan bahan bahan alam serta tidak banyak mengakibatkan dampak pada lingkungan, Naah kita punya banyak sumber – sumber material yang besar dan variatif . Material untuk produk produk tersebut  ada di negeri ini,  Sumber daya manusia cukup terampil dalam melakukan jenis pekerjaaan itupun pabalatak…., dan yang jelas industri ini benar benar menyerap tenaga kerja yang cukup besar, Tahukah anda IKEA membeli produk produk Home Furnishing dan Accessories mencapai US$ 50 juta dari negeri ini, dan mereka membeli hanya sebagai komoditi dan di jual di pasar global di pasar low – end market ( di pasar global berada di low – end ) tahukah anda berapa keuntungannya dari harga ex factory berbanding harga jual 1:5.  Teknologi yang dipakai pun bukan teknologi yang high-end  PASARNYA BESAAR BUNG!!! Kenapa kita tidak mencoba mengembangkan kluster industri ,  berkonsentrasi dulu pada kluster industri home furnishing dan home acessories ini .

(more…)

bikin buku tea yuk

Tuesday, November 27th, 2007 by Tedjakusuma

Salam, 

Menyambut ajakan Landung buat nulis di blog ini, saya coba deh dikit-2..

Udah disinggung di milis tentang penulisan buku..  Yuk kita mulai nulis , tentang pemikiran-2 kita tentang indonesia.. apa sajalah, tentang ekonomi, politik, sains, teknologi, lingkungan, dll. .

Saya sendiri sedang tertarik dengan tema ‘waste to energy’.. intinya gimana mengkonversi limbah menjadi energi..udah banyak juga tulisan-2 mengenai hal ini, dan beberapa tempat sudah melaksanakan.. banyaknya mereka memanfaatkan zat organik dari sampah untuk dikonversi secara biologis (menggunakan mikroba) menghasilkan metan yang bisa dipake sebagai bahan bakar buat masak, bahkan bisa untuk listrik.. beberapa tempat di Indonesia sudah bisa memanfaatkan kotoran sapi untuk menghasilkan metan.. limbah cair juga bisa, tapi belum tau sih sejauh mana efisiensi dsb..

Kalau dikembangkan penelitian tentang ini bagus juga untuk mengatasi masalah lingkungan sekaligus sebagai alternatif energi.. saya belum tau bagaimana aplikasi teknologi ini di negara-negara berkembang lain, tapi di negara maju seperti US sudah ada instalasi pengolahan limbah yang menghasilkan energi seperti itu..

Nah, kembali ke bikin buku itu, yuk kita sama-sama nulis.. apa saja tentang Indonesia.. atau mungkin beberapa teman sudah ada yang bikin artikel atau bahkan buku ya.. sok atuh di-sharing di sini, mudah-mudahan kumpulan tulisan kita nanti bisa dipublikasikan, minimal untuk angkatan kita, lebih jauh lagi untuk ITB, atau bahkan bisa dipublikasikan ke publik..

Kira-kira judul atau temanya nanti mungkin “Menatap Masa Depan Indonesia: serangkai sumbangan pemikiran dari alumni ITB angkatan 89″.. nah asik gak tuh… :) Atau mungkin ada alternatif judul lain yang lebih asik…

Oya bagus kalau buku itu nanti bisa diterbitkan di acara reuni 20 tahunan kita  (sekitar Agustus 2009)..

Yuk gitu dulu, ditunggu deh responnya.

Nuhun, wassalam,

Teddy

Mulai nge-Blog..

Sunday, November 11th, 2007 by sri hardjono

Terus terang baru kali ini ikut2an nge-blog. Saya tanya-tanya teman yang tukang nge-blog (blogger..??) seberapa bebas kita boleh berekspresi di sebuah blog komunitas..? Apa ada aturan baku tentang redaksional, content, topic, dan lain-lain, dan seterus-nya. Atau atas kesepakatan bersama atau pake common sense aja?

Jawab-nya, ya tergantung Mas, gimana cita2nya blog bersama ini dibangun. Sampeyan yang biasa ngawur, ugal2an, agak ndeso, katrok, sok keren.. ya cari blog yang sesuai dengan karakter sampeyan, biar engga mengganggu yang lain yang terbiasa filosofis, keren betulan, mengkilap, dan sugih..

Laahh.. ya engga mungkin teman2 ku itb 89 yang egaliter, manis2, baik hati dan tidak sombong, akan tega mendepak saya.. wong semangatnya untuk berbagi cerita dan kumpul2 demikian manteb dan menggelora. Yakin ga bakalan ada sekat-sekat baik yang hidup di negri 4 musim, 2 musim, dan 1 musim dan dari berbagai keyakinan teologis serta filosofi kehidupan maupun dari status sosial dan marital, bujangan jomblo, tukang kawin cerai, duda, janda..

 Sebentar Mas, negri 1 musim?

Lha iya Dul, negri-mu ini, selama ini kan cuma kenal 1 musim, musim ruwet. Sudahlah aku tetep mau coba bikin tulisan sekenanya, seenaknya, sengawurnya..

Mas Landung dan teman2 sudah siap terima nasib, kumpul sama yang ndeso, katrok, ugal2an?? Yang jelas bukan saya, wong aslinya saya ya keren, wangi, perlente, rajin ke mesjid (kalo Jumat dan sempat). Ga percaya? Ada benernya juga..

Salam dari Handil. (ga usah dicari dipeta, ga bakalan ada..) 

Djono gd89

Zeitgeist dan Identitas Sebuah Angkatan

Sunday, November 11th, 2007 by Myr

Zeitgeist berasal dari sebuah ekspresi bahasa jerman yang berarti spirit (Geist) sang waktu (Zeit). Ia menandai iklim intelektual dan kultural sebuah era. Konsep Zeitgeist mengacu pada seorang filsuf Jerman Johann Gottfrien Herder, namun paling erat kaitannya dengan filosofi Hegel tentang sejarah. Pada 1769 Hegel menulis sebuah kritik terhadap karya Genius seculi dari philologist Christian Adolph Klotz dan memperkenalkan kata Zeitgeist ke dalam bahasa jerman sebagai terjemahan dari genius seculi (Latin: genius - “guardian spirit” dan saeculi - “of the century“).

Kata ini menjadi sebuah istilah yang mengacu pada etos sebuah masyarakat, mencakup satu atau lebih generasi, dengan mengabaikan perbedaan umur dan latar belakang sosial ekonomi, yang memiliki suatu perspektif atau pandangan tertentu terhadap dunia, yang umum atau dominan pada periode tertentu sebuah progresi sosio-kultural. Zeitgeist adalah pengalaman iklim kultural dominan yang mendefinisikan, khususnya dalam pemikiran Hegelian, suatu era progresi dialektikal masyarakat, atau dunia dalam lingkup yang lebih luas. Menurut Hegel, Zeitgeist selalu berinkarnasi atau wewujudkan dirinya sendiri dalam sebuah Volgeist tertentu (Volk berarti orang atau masyarakat), yang secara persona diwakili oleh seorang hero. Ketika misi sang hero telah terpenuhi, sejarah akan mengabaikannya dan sang Zeitgeist akan ditransfer ke Volgeist lainnya, di mana seorang hero baru akan tampil untuk melengkapi pemahaman akan sang Mahluk “spiritual” tersebut melalui perjalanan sejarah itu sendiri.

Sebagai bagian dari sebuah angkatan dan juga persona, spirit ini bisa diidentifikasi berdasarkan milestone kesadaran (intelektual, spiritual) sepanjang perjalanan kita: misalnya sejak pertama masuk almamater, masa-masa menimba ilmu secara formal, lulus, terjun ke masyarakat, hingga saat ini. Apa yang menjadi dorongan atau motivasi utama, nilai, prinsip, idealisme, pilihan peran atau kiprah profesional, metoda atau alat yang digunakan, style atau gaya hidup, dan sebagainya. Ketika zaman harus berganti, transisi ini dikenali oleh orang-orang yang mengaspirasikan sebuah perubahan.

Jika dilihat secara keseluruhan, baik-buruk yang ada di muka bumi adalah cermin kita bersama. Namun di atas penghakiman benar-salah, yang utama adalah seberapa fluid-kah kita sanggup berubah dan bertransformasi, seberapa sensitif kemampuan kita mengindera pembaruan jika saatnya telah tiba. Dan yang paling penting: cukup beranikah kita memulai sebuah kehidupan baru, masyarakat baru, dunia baru, nilai-nilai yang benar-benar baru jika sang Waktu telah memanggil?

Sebuah puisi indah di bawah ini saya baca tanpa sengaja, terpampang di dinding sebuah kereta underground (metro) di Paris. Buah karya Emily Dickinson, diterjemahkan dari bahasa Prancis kurang lebih maknanya sebagai berikut:

Dunia ini oval
Kita mempelajari air melalui rasa haus,
daratan melalui perjalanan laut,
intesitas dari agitasi,
perdamaian melalui kisah perang,
cinta melalui kematian,
dan burung-burung melalui musim dingin.

Alam adalah alegori yang sempurna. Perubahan warna dedaunan di musim gugur menjadikan pepohonan kaya warna dan nuansa. Namun ini pun tidak berlangsung lama. Daun-daun yang semula hijau satu persatu menjadi kemerahan, kuning, kemudian jingga, mengering akhirnya gugur menjadi lembaran ringan kecoklatan yang melayang tertiup angin. Kemudian pepohonan akan tinggal dahan dan ranting-ranting telanjang, saat di mana dunia vegetasi siap memasuki fase selanjutnya, musim dingin. Berubah seiring zaman adalah seperti melangkah seiring dengan musim yang terus-menerus berganti dan menyatu di dalamnya. Keabadian.

Lyon, akhir pekan, musim gugur | 4:04 am

Autumn by Marlene Snee

(Credit Image: Autumn in Salcey Forest, Northampton by Marlene Snee)

Pelangi 89 !

Sunday, November 11th, 2007 by Myr

Rainbow RoseTerimakasih untuk antusiasme teman-teman yang mendukung hingga terealisasinya ide pembuatan blog ini. Berkat kemajuan teknologi informasi, setelah hampir 20 tahun angkatan 1989 berdiri kita bisa bertemu kembali di sini meskipun secara virtual.

Pertumbuhan dan penggunaan media blog yang semakin meluas di dunia bukan lagi sekedar trend atau mode sesaat (kata siapa tuh? (TM) :). Ada sesuatu yang esensial dan mendalam di balik fenomena blog. Jika kita menyikapinya secara positif menurut saya media blog adalah berkah, yang memungkinkan setiap warna digoreskan di atas kanvas dan setiap kebenaran individu disuarakan. Sesuatu yang bahkan dalam dunia sehari-hari semakin sulit diekspresikan, entah karena topeng sosial, menjaga nama institusi, kendala kultural, atau terperangkap dalam batasan-batasan sains, akademis bahkan religi.

Setiap individu adalah subyek, dan tidak ada satupun suara yang tidak penting jika berasal dari hati nurani. Kita membutuhkan semua keping itu terkumpul sehingga angkatan ini dapat menyajikan sebuah lukisan yang utuh bukan hanya secara intelektual, namun juga sempurna dalam nuansa manusiawi. Jika kekayaan itu bisa digali dan ditemukan kembali, manfaatnya bukan hanya pada individu namun juga untuk bumi dan masyarakat luas.

Selamat bereksplorasi, berekspresi, selamat ngeblog kamerads! Counting down to August 5th, 2009.

(Credit image: Rainbow Rose by Maria Greene)